Senin, 10 September 2018

BAGILAH

  Untuk: Ayahku Purwohadi           
Kini aku mengerti.
Betapa bencinya engkau pada hari.
Mengurung kalbu mengurai decak rindu.
Terpelanting jauh, mengambang, terjerat,

Beban apa tersimpan?
Beban yang mana?
Mana tahu sebelum dikata

Yang mana satu ingin kau bagi
Tanggung jawabkah?
Perasaankah?
Atau masa lalu kah?

Ini bibir hendak berkata.
Kini bungkam tanpa suara.
Membatin sejenak, tenggelam dalam angan.
Tergugu terisak diatas dipan.

Senin, 11 Juni 2018

KABUT

Dan mengapa tersisa sebuah sesal.
Jika awan pun enggan singgah
Selayaknya air, jernih dan tulus
Lantas mengapa langit mendung?

Menguap dan jatuh, itu air laut
Hulu ke hilir, itu sungai berkelok
Tenang dan lembut bagai danau luas
Mengalir dan rapuh seperti air mata

Namun yang selalu terkenang dan mengenang,
Mengiringi untaian sajak dari ufuk timur
Lalu tenggelam bersama senja.
Kabut pun mengerti, mengapa ia ada.

Sabtu, 27 Januari 2018

KITA PERNAH

                       
Sinar dibalik senja.
Tampak elok nan hangat.
Semburat jingga memanjakan mata.
Bagai lagu embun yang membisukan waktu.

Kini badai telah berlalu.
Berteduh dari kejaran waktu.
Meninggalkan jejak gerimis.
Hingga lonceng memukul sunyi. Memekakkan!

Kita pernah bersama,
Bergandengan melewati lorong kesunyian.
Saling tatap mengintip bintang dibalik kabut.
Kita pernah bersama, mengukir cerita sebercak darah.

Penuh luka penuh duka.
Sampai akhirnya lorong pengap berujung cahaya.
Menampilkan musim semi setelah badai berlalu.
Kita pernah, pernah bersama merasakan euforia itu.
Kita pernah..,