Dan mengapa tersisa sebuah sesal.
Jika awan pun enggan singgah
Selayaknya air, jernih dan tulus
Lantas mengapa langit mendung?
Menguap dan jatuh, itu air laut
Hulu ke hilir, itu sungai berkelok
Tenang dan lembut bagai danau luas
Mengalir dan rapuh seperti air mata
Namun yang selalu terkenang dan mengenang,
Mengiringi untaian sajak dari ufuk timur
Lalu tenggelam bersama senja.
Kabut pun mengerti, mengapa ia ada.