Rabu, 23 Januari 2019

KAWANKU

Untuk kawanku:
Sella dan Bella maknae 
Hanya satu.
Yang akan terkenang dalam benak.
Tawamu, candamu yang lepas dari kekang.
Baru kemarin kita saling pandang.
Saling memerhatikan jarak langkah.
Sampai pada akhirnya,
Kita bertemu di persimpangan jalan.
Saling sapa senyum melontar kata.
Hingga,
Hari-hari berikutnya lebih mudah.
Rangkul peluk pun sudah biasa.
Menghadapi berbagai cemohan, rintangan, dan cobaan kehidupan.
Tapi kita kuat, seperti batu karang.
Tetap tegar teguh berdiri meski rapuh.
Saling harap agar terus bersama, membuat banyak kisah, melakukan lebih banyak perjalanan.
Dengan rentan waktu yang takkan lekang.
Sampai waktu memberi jarak,
Agar kita merindu untuk saling bertemu.
Kembali menghabiskan waktu bersama,
Berbagi cerita tawa tangis bahagia.
Sampai nanti kita dewasa, berkeluarga, dan berkehidupan mapan.
Ingatlah maknae, kita pernah berjuang bersama hanya untuk mendapatkan sedikit uang.
Ingatlah sella, kita pernah saling berbagi kesedihan dan kerinduan akan kasih sayang juga kebebasan.
Ingatlah, hari ini adalah hari esok yang kita cemaskan kemarin, kawanku.
Teruslah bahagia dan sehat selalu.
I purple u.


Jumat, 04 Januari 2019

LINTANG

Jangan benci jangan mengkal
Anjing menggonggong biar berlalu, bukan begitu?
Pukul saja sesukamu!
Pecahkan saja semaumu!
Sampai habis semua amarah
Sampai hilang semua gundah
Biar tenang dalam kesunyian malam
Menanti hangatnya mentari datang
Takkanlah kau menjadi pendendam
Meredam semua duka atas cita
Cukup sekian semua kisah
Sudah kuputuskan: Akan pergi lalu menghilang

TENGGELAM

Kepada: Yanti & Emi
Yang mana satu darah daging
Kita kah? Atau tidak adakah?
Tak perlu kau ucap aku pun tahu
Sebenci itukah?
Biarlah ucapmu menguar tak terbendung
Aku pun termangu tak mengelak
Tidak kah kau mengerti?
Ah, benar... siapa daku hendak dimengerti
Biarlah kutelan
Walau tercekat di ujung kerongkongan.
Tidakkah kau pikir aku ini bermuka tebal, bibi?
Setebal hatiku mengiris setiap luka

PANDANG

Kala senja dan kabut berimpit
Awan berarak tak tentu arah
Kesiur angin begitu resah
Decak air tak lagi beriak
Aku pun tak bisa pahami
Tentang terbit dan tenggelamnya matahari
Ketika langit memberi arti, kepada jiwa yang telah lama mati
Kemana lagi aku harus lari