Bergegas melangkah pergi.
Hari demi hari, tahun demi tahun.
Luka itu masih ada, terasa. Masih basah.
Tak kunjung sembuh. Tak kunjung reda rasa sakitnya.
Tiap hari berganti waktu berulang cerita.
Berhitung tanggal menghitung derita.
Untuk mengeluh pun tak kuasa.
Biar berkurang, biar memudar.
Agar aku bisa lega, mengisi setiap ruang.
Kini semua tak lagi sama.
Bukan berarti berubah.
Apa istilahnya?
Tegarkah? Atau tabah?
Mungkin sabar lebih baik. Meski tidak sepenuhnya benar.
Ah, bukan hak kita membenarkan suatu perkara.
Kini semua tak lagi sama.
Bukan berarti berubah.
Apa istilahnya?
Tegarkah? Atau tabah?
Mungkin sabar lebih baik. Meski tidak sepenuhnya benar.
Ah, bukan hak kita membenarkan suatu perkara.
Luka selalu ada di saat rasa benci menyertai di saat kata kata mengiris relung dada ini belum siap menahan sudah di hantam oleh keadaan di situlah mengingat ada celah suka duka menghampiri di situlah masa pernah ada
BalasHapus